Dirasat Fi Al-Aqidah Al-Islamiyyah
I. DEFINISI (تعريف):
a. Etimologi (لغة): Al-Aqidah berasal dari kata bahasa Arab العقد (mengikat, menguatkan, meneguhkan) yang merupakan مشتاق (kata jadian) dari asal katanya عقد-يعقد-عقدة-عقيدة yang maknanya ikatan.
b. Terminologi (إصطلاحا): Makna bahasa di atas menghasilkan tiga hal, yaitu:
i. Ar-Rabthu (ikatan), maksudnya ikatan yang mengikat keyakinan seorang muÃÎin sehingga terjaga dari berbagai kepercayaan dan keyakinan yang bersifat khurafat dan takhayyul.
ii. Al-Jazmu (keyakinan yang mantap), yaitu keyakinan yang mantap kepada Allah SWT terhadap rizki, kekuasaan maupun keadilan dan pertolongan-Nya.
iii. Al-Á¢hdu (janji), ialah janji untuk membela kebenaran dan menegakkan hukum Allah SWT dimuka bumi ini.
II. NAMA LAINNYA (الأسماء الأخرى):
a. Banyak ulama salaf yang menamakannya As-Sunnah (seperti kitab As-Sunnah karya Ibnu Hanbal & kitab yang sama karangan Ibnu Abi Ashim).
b. Ada pula yang menamakannya Al-Fiqh Al-Akbar, karena ia adalah dasar agama (seperti kitab karya Imam Abu Hanifah), lawannya adalah al-Fiqh Al-Ashgar.
c. Ada pula yang menamakannya Ushuluddin, karena ajaran Nabi SAW ada yang merupakan bagian keyakinan (إعتقادات) yang merupakan Ushul dan ada pula yang merupakan amal keseharian (عمليات) yang merupakan Furu?.
III. AHLUS-SUNNAH WAL-JAMAâH (اهل السنة والجماعة):
a. Dalil penamaan Ahlus Sunnah adalah hadits Nabi SAW: فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي،عضوا عليها بالنواجذ (? wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku & sunnah khulafaur Rasyidin setelahku, gigit lah ia dengan gigi geraham?)[1].
b. Sementara penamaan Al-Jamaah adalah berdasarkan hadits Nabi SAW : Åå dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, yang 72 golongan akan masuk neraka dan yang 1 golongan akan masuk Jannah dan yang 1 itu adalah Al-Jamaah)[2]?.
c. Mereka disebut juga dengan nama ThaÃÊfah Manshurah, berdasarkan hadits : ŵidak henti-hentinya thaÃÊfah (sekelompok) dari umatku yang dimenangkan, tidak mempengaruhi mereka orang yang menghina mereka sampai datangnya Hari Kiamat.Ǽ3]
d. Mereka disebut juga Firqatun Najiyyah, berdasarkan hadits dari Auf bin Malik RA tentang Al-JamaÃÂh di atas.
e. Adapun istilah yang sekarang coba dipopulerkan oleh sebagian orang, yaitu istilah Salaf ataupun Salafi, maka itu tidak aku temukan dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah, maka tidak perlu dihiraukan sedikitpun.
IV. UMMATAN YANG ADIL & PILIHAN (امة وسطا):
a. DALAM IBADAH: Pertengahan antara pemahaman Rawafidh yang menambah-nambahi dengan berbagai dzikir & doa yang berlebihan, upacara-upacara dan berbagai perayaan bidÃÂh, membangun & menghiasi kuburan, istighatsah & tawasul yang tidak ada dalilnya di satu sisi; dengan pemahaman Duruz & Nashiriyyun yang malah meninggalkan semua jenis ibadah, mereka tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat & hajji dan seterusnya.
b. DALAM ASMA? WA SHIFAT: Pertengahan antara kelompok muÃÂththillah yang mengingkari sifat-sifat ALLAH karena menganggap ALLAH SWT tidak pantas memiliki sifat (baik mengingkari seluruh asma? wa sifat seperti Jahmiyyah, ataupun hanya mengingkari sifat-sifat ALLAH saja seperti MuÃÕazilah, di antara bagian dari MuÃÕazilah ini adalah kelompok AsyÃÂriyyah yang men-taÃØil sebagian sifat ALLAH dengan alasan mensucikan ALLAH) di satu sisi dengan kelompok mumatstsilah/musyabbihah yang menyerupakan sifat ALLAH dengan manusia. Maka kita menerima dan memahami asma? wa shifat ALLAH dengan itsbat (penerimaan), tanpa taÃÕhil (menghilangkan), taÃØil (dimaknai lain), tasybih/tasybih (diserupakan) dan takyif (bertanya tentang kaifiyat-nya) [4].
c. DALAM TAQDIR: Pertengahan antara sikap menafikan taqdir sama sekali dan menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah kehendaknya sendiri tanpa ada campur-tangan ALLAH sama sekali (Qadariyyah) di satu sisi; dan sikap menyerah pada taqdir sama sekali dan menafikan semua usaha manusia sehingga bagaikan daun kering terbawa air sungai yang tidak memiliki kemampuan & kehendak (Jabariyyah). Maka Ahlus Sunnah mengimani 4 tingkat taqdir[5] yaitu dimulai dari ilmu ALLAH SWT yang bersifat qadim (terdahulu) & meliputi segala sesuatu, kemudian IA memerintahkan agar semuanya tertulis di Lauh Mahfuzh, kemudian semua kehendak-NYA pastilah akan terlaksana, maka kemudian IA menciptakan makhluq, memberi petunjuk pada mereka dan menyempurnakan kejadian mereka[6].
d. DALAM JANJI DAN ANCAMAN: Pertengahan antara didominasi nash-nash ancaman seperti kelompok WaÃÊdiyyah/Haruriyyah: dengan sebaliknya didominasi nash-nash janji dan harapan seperti MurjiÃÂh. Kelompok WaÃÊdiyyah mengkafirkan orang-orang yang berdosa besar, sementara MurjiÃÂh menyatakan semua perbuatan dosa apapun hatta dosa besar tidak akan diazab apapun sepanjang hatinya masih ada keimanan.
e. DALAM MENILAI SHAHABAT NABI SAW: Pertengahan antara ekstremitas mencintai Ahlul Bayt sebagaimana kelompok SyiÃÂh dan ekstremitas kebencian kepada Ahlul Bayt sebagaimana kelompok Nawashib (sebagian dari Khawarij); sebaliknya Ahlus Sunnah mencintai Ahlul Bayt sebagaimana pada sebagian sahabat yang lain dan bahkan mereka (ahlul-bayt Nabi SAW) memiliki 2 keutamaan yaitu hak Islam dan hak kekerabatan dengan Nabi SAW, mereka mencintai para Ahlul Bayt dan mendoakan semoga ALLAH SWT meridhai mereka[7].
(Bersambung insya ALLAAH?)
MARAJI?:
1. AbduLLAH bin Abdul Aziz Al-Jibrin, DR., Tahdzib TaÃÔhil Al-Aqidah Al-Islamiyyah, Maktabah Malik Fahd Al-Wathaniyyah, Riyadh.
2. Muhammad bin Abdil Wahhab, Kasyf Asy-Syubuhat fi Tauhid, Al-JamiÃÂh Al-Islamiyyah bil-Madinah Al-Munawwarah, Madinah.
3. Shalih bin SaÃÊd As-Suhaymi, DR., Murakkazah Fil Aqidah, Al-JamiÃÂh Al-Islamiyyah bil-Madinah Al-Munawwarah, Madinah.
4. Muhammad NuÃÂim Yasin, DR., Al-Iman Arkanuhu Haqiqatuhu wa Nawaqidhuhu, (terjemahan) berjudul : Iman Rukun, Hakikat & yang Membatalkannya, Syaamil Bandung.
5. Muhammad Quthb, Mafahimu Yanbaghi ÁÂn Tushahhah, (terjemahan) berjudul : Koreksi Atas Pemahaman La Ilaha IllaLLAH, Al-Kautsar Jakarta.
6. Nabiel Fuad Al-Musawa, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum, Syaamil bandung.
7. Dll.
Catatan Kaki:
[1] HR Thabrani, dalam Musnad Asy-Syamayn, hal. 136; dan juga dalam MuÃËam Al-Kabir, XVIII/248,623; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Ash-Shahihah, VI/526.
[2] HR Abu Daud, II/503-504; Ibnu Majah, XI/494; Ahmad, IV/102; Al-Baihaqi dalam Al-Kubra?, X/853; Al-Hakim, I/128; Ad-Darami, II/241; AbduRRAZZAQ dalam Al-Mushannaf, X/156; At-Thabrani dalam MuÃËam Al-Kubra?, XIV/301; Abu YaÃÍa dalam Al-Musnad, VIII/466; di-shahih-kan oleh Albani dalam Ash-Shahihah, I/358.
[3] HR Tirmidzi, II/30; Abu Daud, I/8; Ahmad, III/436; Ibnu Hibban no.2313; At-Thayalisi dalam Al-Musnad hal.145; Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, I/3; At-Thabrani dalam Al-Kabir, XIII/356; dan berkata Albani dalam Ash-Shahihah, I/688 : Å´hahih sesuai syarat Syaikhan.?
[4] Hal ini terangkum dalam perkataan Imam Malik bin Anas ËÓahimahuLLAAH- saat beliau ditanya oleh seorang Jahmiyyah tentang bagaimana ALLAH SWT istiwa? di atas Á¢rsy? Maka beliau menjawab : Ūstiwa? itu maÃÍum (diketahui), kaifiyat-nya majhul (tidak diketahui), iman atas hal itu wajib dan bertanya tentang hal itu bidÃÂh.? (HR Ad-Darami dalam kitabnya Ar-Radd ÁÂlal-Jahmiyyah, hal-33; juga Al-Lalikaê, I/92; juga dalam Mukhtashar Al-Á¶luww oleh Adz-Dzahabi, hal.141).
[5] Yang dirangkum oleh para ulama aqidah dalam syaÃÊr mereka : ÅòIlmun kitabatu mawlana masyiÃÂtuhu, kadzalika khalqun wa ijadun wa takwinun.?
[6] Keimanan Ahlus Sunnah kepada takdir juga berkeyakinan bahwa semua takdir bersifat baik dari sisi ALLAH SWT, karena IA Maha Suci dari sifat buruk, namun dari sisi kelemahan manusia bisa saja takdir-NYA itu dianggap buruk seperti penyakit, cacat dsb, padahal semuanya ada hikmah yang baik jika seandainya manusia itu mengetahuinya (sampai dari penciptaan Iblis-pun ada hikmahnya, di antaranya menjadi ujian bagi manusia, adanya taubat & inabah setelah manusia tergelincir, adanya kehati-hatian & perlunya permohonan perlindungan kepada ALLAH SWT, dsb; lih. Kitab Al-Iman, Arkanuhu, Haqiqatuhu wa Nawaqidhuhu, DR Muhammad NuÃÂim Yasin).
[7] Ahlul Bayt menurut Ahlus Sunnah adalah kerabat Nabi SAW yang diharamkan shadaqah bagi mereka, yaitu Bani Hasyim, Bani Muthalib, dan semua istri Nabi SAW (Lih. JalaÃÂl Afham, Ibnul Qayyim hal.114; juga tafsir Al-Qurthubi, Ibnu Katsir & Asy-Syaukani dalam tafsir QS Al-Ahzab, 33:32-33).
Saya mau tanya apakah ikhwanul muslimin punya hubungan dengan PKS????
Nama saya Erlangga. Pemilu kali ini adalah yang pertama bagi saya. Tapi saya bingung apakah nanti saya akan mencoblos atau tidak. Banyak teman saya yang bilang kalau mencoblos itu dosa. Tapi tidak sedikit juga yang bilang kalau mencoblos itu wajib seperti fatwa MUI kemarin. Bagaimana ini? Saya bingung.. Tolong jelaskan kepada saya mengapa saya harus mencoblos atau tidak mencoblos. Kalau mencoblos, saya harus mencoblos orang atau partai seperti apa? Tolong berikan saya jawaban yang jelas dan detil berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Terima kasih.
Nama saya Erlangga. Pemilu kali ini adalah yang pertama bagi saya. Tapi saya bingung apakah nanti saya akan mencoblos atau tidak. Banyak teman saya yang bilang kalau mencoblos itu dosa. Tapi tidak sedikit juga yang bilang kalau mencoblos itu wajib seperti fatwa MUI kemarin. Bagaimana ini? Saya bingung.. Tolong jelaskan kepada saya mengapa saya harus mencoblos atau tidak mencoblos. Kalau mencoblos, saya harus mencoblos orang atau partai seperti apa? Tolong berikan saya jawaban yang jelas dan detil berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Balas juga ke erlanggabl@gmail.com Terima kasih.
akhil karim ana mau tanggapi tulisan antum yang menyatakan bahwa nama salafy tiadak ada, maka ana jawab bahwa ketidak tahuan bukanlah suatu hujjah, kalo antum ditanya tentang makanan kahs kota gresikdan setelah cari-cari kesana kemari tidak tahu, lalu antum mengatakan aku tidak menjumpai di buku-buku yang aku baca maka pertanyaan itu tidak benar.
maka jelaslah bahwa ketidak tahuan bukan hujjah.
adapun nama salafy telah ada sejak zaman nabi sebagai mana apa yang beliau katakan kepada putri beliau FATIMAH : ' ana salafuki "
sementara kata salaf yang ada sekarang adalah penisbatan kepada cara beragama yakni beragama dengan mengikuti orang-orang terdahili ( para sahabt, tabi'in, tabi'tabi'in) silahkan antum baca di buku nya unst zaenal Lc buku pitih salafiyah, semoga kita terhindar dari fanatik dan mengikuti dalil-dalil yang ada.